Tampilkan postingan dengan label Teknik Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Menulis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juli 2016

MEMASUKKAN NILAI BUDAYA LOKAL (LOCAL GENIUS) DALAM KARYA

image : p-wec.org

Salam Seni dan Budaya
Selamat pagi dan salam sejahtera kepada semuanya...

Mari kita berdiskusi, sharing, dan belajar bersama...

PENDAHULUAN

Definisi seni jika ditinjau dari berbagai sudut pandang memiliki banyak makna, satu di antaranya adalah “seni merupakan pengekspresian cipta rasa manusia dalam suatu karya yang dapat dikatakan unik”. Seni merupakan sinonim dari ilmu, karena pada mulanya seni merupakan sebuah proses dari manusia. Seni merupakan inti sari dari ekspresi dan kreatifitas manusia. Jakob Soemardjo menyatakan bahwa seni memiliki enam pandangan tentang apa yang seharusnya diwujudkan dalam seni, yaitu:
1. Seni itu representasi sikap ilmiah atas kenyataan alam dan kenyataan sosial,
2. Seni merupakan representasi general dari alam dan manusia umumnya,
3. Seni adalah representasi karakteristik general dalam alam dan manusia yang dilihat secara obyektif,
4. Seni adalah representasi bentuk ideal yang melekat pada alam kenyataan dan alam pikiran manusia,
5. Seni merupakan representasi bentuk ideal yang transcendental (homo relegius), dan
6. Seni adalah representasi dunia seni itu sendiri (seni untuk seni).
(Jakob Soemardjo: Filsafat Seni, 2000)

Semua bentuk seni—sastra, tari, vocal, rupa, dan drama—merupakan wujud dari pencarian dan pengekspresian diri manusia selama berabad-abad bahkan semenjak manusia diciptakan pertama kali. Seni merupakan sebuah puncak kebutuhan yang tidak dapat dihindari oleh manusia dalam kehidupan di dunia.  

PEMBAHASAN

Peradaban memiliki makna sikap, tingkah laku, serta tatanan masyarakat (manusia) yang tahu, paham, mengerti, dan melaksanakan ‘adab’ tata krama kepada alam, tumbuhan, hewan, sesama manusia, dan Tuhan. Puncak dari seni adalah drama. Drama memiliki unsur-unsur yang merangkum seluruh bidang seni yang ada, yaitu:  1) Sastra berupa naskah;  2) Gerak berupa tari dan pergerakan aktor;  3) Rupa berupa artistik panggung dan properti pementasan;  4) Suara berupa dialog aktor;  5) Musik berupa ilustrasi/musik pengiring. Hakekatnya setiap manusia (individu) adalah seorang seniman yang tentu saja porsinya berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Setiap orang pasti menyukai dengan keindahan, kerapian, serta segala sesuatu yang dapat membuat dirinya nyaman, gembira, dan diakui keberadaannya.

Pertanyaan terbesarnya: Kenapa tidak semua orang menjadi penulis, penyair, pelukis, maupun bidang seni lainnya? Akan ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, tentu saja disesuaikan dengan pendapat, pemahaman, tingkat pendidikan, serta wawasan tiap individu. Jawaban paling umum yang dapat dan sering didengar adalah: “Saya tidak berbakat, Saya tidak bisa, Saya tidak tahu, dan sejenisnya.”  Padahal ketika kecil, semua orang pasti suka menggambar, menyanyi, menari, dan bercerita dengan bebas sesuai perasaan yang dialaminya. Kebiasaan itu menghilang ketika manusia mulai mengenal dunia luar dirinya. Secara tidak sadar tiap individu menggunakan alat ukur ‘kesuksesan orang lain’ dalam mengukur dan menakar kemampuannya sendiri. Kesuksesan dan keberhasilan orang lain menjadikan diri sendiri silau dan takjub, sehingga lupa bahwa sebenarnya kita juga bisa. Hal ini lambat laun akan menjadi virus yang menyumbat kreatifitas individu. 

Menulis merupakan satu dari empat keterampilan berbahasa yang tentu saja membutuhkan pembiasaan secara terus menerus. Menulis memiliki banyak dimensi, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Menulis merupakan ‘out put’ atau hasil dari proses pengamatan, pembacaan, pendengaran, dan perenungan (berpikir). Menulis bisa diibaratkan dengan ‘buang air besar’, yang mana tidak mungkin seorang manusia akan buang air besar jika tidak pernah memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya. Lalu apa yang harus dimasukkan ke dalam tubuh untuk menghasilkan tulisan? Rainer Maria Rilke dalam ‘Suratnya Kepada Penyair Muda’, yang diterjemahkan oleh Sutardji Calzoum Bachri memberikan sebuah renungan yang menarik.    
……
Maka itu, aku tidak bisa memberi nasihat kecuali ini: pergilah masuk ke dalam dirimu, galilah sampai ke dasar tempat kehidupanmu berasal;
……

Penggalan surat di atas, jelas memberikan dua hal penting yang harus dipahami oleh siapa saja yang ingin dan mau menulis, yaitu:
1. Masuk ke dalam diri
Kekayaan terbesar manusia yang sebenarnya adalah kenangan dan pengalaman-pengalaman masa kecil, segala sesuatu yang dia alami ketika kecil. Semua hal yang terjadi pada masa kanak-kanak—entah bernilai baik maupun buruk—semuanya merupakan gudang tempat menggali kekayaan diri pribadi yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang, dan bentuk serta rasanya berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Keadaan (kehidupan) kita saat ini bisa jadi adalah bentuk dan perwujudan kita di masa lampau, tetapi juga sangat bisa merupakan kebalikan dari apa yang kita bayangkan, impikan, dan kita inginkan di masa lalu. Semua itu adalah harta karun terpendam yang jarang sekali kita sadari, bahkan kita selalu berusaha untuk melupakannya (karena beberapa alasan tertentu).   Kenangan masa kanak-kanak, yang bernilai baik maupun buruk, merupakan sebuah bahan yang sangat luar biasa bagusnya. Kenangan baik maupun buruk itu bisa saja menjadi sebuah nasehat dan cermin bagi orang lain ketika kita menuliskannya dalam bentuk apapun—sajak, cerpen, novel, maupun naskah drama.  Semua orang pasti memiliki kenangan, pengalaman, dan hal-hal lain di masa kanak-kanak, maka sudah pasti setiap orang bisa menulis.
2. Mendekati alam, menggali ke tempat kehidupan berasal Selama ini kita terlalu sering—sangat sering—melihat ke luar diri. Melihat ke kejauhan sehingga kita lupa dengan apa yang ada di bawah telapak kaki kita sendiri.  Kita selalu terkagum-kagum, takjub, bahkan memuja-muja segala sesuatu yang berasal dari luar diri kita, sehingga kita tidak pernah berniat untuk melakukannya sendiri. Kita terlalu silau dengan hal-hal, pencapaian, dan karya orang lain, sehingga kita lupa untuk berbuat, dan menghasilkan karya yang bisa saja menyamai atau bahkan melebihi hasil yang dicapai oleh orang lain. Hampir semua hal yang kita lakukan saat ini merupakan hal-hal yang melupakan hakikat kedirian kita sendiri. Cara berpikir, sudut pandang pemikiran, sumber pengetahuan, metode pembelajaran, cara hidup, dan cita-cita hidup kita lebih banyak menjauh dari keberadaan diri sendiri. Kita lebih memilih untuk berpedoman pada akar nilai kehidupan yang berasal jauh dari kehidupan kita sendiri. Nilai-nilai yang ada di sekeliling kita—adat istiadat, budaya, pitutur luhur, pepatah, norma, dan hal-hal baik lainnya—yang telah diwariskan oleh leluhur kita menjadi sebuah komoditi yang ‘seolah-olah’ ketinggalan jaman, tidak modern, bahkan terbelakang. Berapa banyak orang luar yang begitu terpesona, begitu tertarik, bahkan iri dengan kekayaan adat istiadat, budaya, dan segala hal yang diwariskan oleh leluhur kita? Sebagai misal: Australia, Selandia Baru, Jepang, dan Singapura menyediakan waktu dan jam khusus untuk kurikulum karawitan dan bahasa Indonesia dalam jenjang pendidikan dasar mereka, sedangkan di negara kita belum ada satupun yang berani menerapkan hal tersebut.   

Sepanjang sejarah manusia ada tiga hal yang ingin dicapai oleh manusia, yaitu: 1) Kebenaran (truth), 2) Kebaikan (goodness), dan 3) Keindahan (beauty). Ketiga hal tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh untuk menjadikan hidup manusia bermakna. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa ‘Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu, relevansi, serta efisiensi managemen pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan diwujudkan melalui program Wajib Belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga, agar mempunyai daya saing dalam menghadapi tantangan global.’

Hal ini jelas memberikan sebuah koridor yang menarik kepada siapa saja yang termasuk warga Negara Indonesia untuk terlibat secara aktif maupun pasif dalam turut serta menyukseskan proses ‘olah hati, olah pikir, dan olah rasa’ sehingga setiap manusia Indonesia menjadi utuh sesuai karakteristiknya masing-masing. Olah hati, olah pikir, dan olah rasa merupakan bagian dari nilai-nilai estetika manusia, yang telah ada dan merupakan fitrah manusia. Tanpa estetika, hidup akan menjadi kering, hampa, bahkan tidak bermakna. Belajar estetika hakikatnya adalah belajar tentang nilai-nilai luhur dan menemukan nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
Belajar estetika akan memberikan manfaat antara lain:
1. Memperdalam tentang rasa indah pada umumnya dan kesenian pada khususnya,
2. Memperkokoh rasa cinta pada seni dan budaya bangsa pada umumnya dan mempertajam kemampuan mengapresiasi, menghargai kesenian dan budaya,
3. Memupuk kehalusan rasa dalam diri manusia,
4. Memperkokoh keyakinan dalam masyarakat dalam kesusilaan, moralitas, peri kemanusiaan, dan ketuhanan,
5. Melatih diri untuk berdisiplin dalam cara berpikir dan mengatur pemikiran dengan sistematik, membangkitkan potensi untuk berfalsafah, yang akan memudahkan dalam menghadapi permasalahan, memberikan wawasan yang luas sebagai bekal bagi kehidupan spiritual dan psikologis. (AAM Jelantik, Estetika: Sebuah Pengantar, hal. 13-14, 1999)

Sejalan dengan pemikiran di atas, tujuan pendidikan ekspresi estetis ialah membimbing pertumbuhan pribadi manusia, di samping membuat harmonis kepribadiannya dalam kelompok sosial. Hal ini seiring dengan hakikat pendidikan estetis yang memiliki fungsi:
1. Menjaga dan memelihara kemampuan segala macam persepsi dan sensasi,
2. Mengkoordinasikan berbagai cara persepsi dan sensasi, antara yang satu dengan yang lainnya dalam hubungannya kepada lingkungan,
3. Mengekspresikan perasaan dalam bentuk yang dapat dikomukasikan,
4. Mengekspresikan dalam wujud bentuk dari segala macam pengalaman mental.
(Katjik Sutjipto, Seni Rupa Sebagai Alat Pendidikan, 1973)

Di tinjau dari relevansi seni sebagai media pengembangan kreativitas, sifat-sifat imajinasi dan permainan yang melekat dalam seni menegaskan suatu kebebasan berkhayal dan bentuk pengungkapannya. Disiplin seni adalah disiplin yang ‘membebaskan’, disiplin yang senantiasa lebih baik dari pada tidak disiplin dan/atau displin ketat tanpa hati nurani. Disiplin seni adalah system yang akan membawa kebanggan dan keanggunan jasmaniah dan rohaniah.  Pada perkembangan jaman global saat ini, ada dua sisi dilematis yang sulit diakomodasikan antara seni dan kehendak umum. Di satu sisi adalah kuatnya minat masyarakat (lokal dan global) terhadap pentingnya memahami budaya local dan nilai-nilai yang dikandungnya, dan di sisi lainnya adalah tuntutan dari system pendidikan, cara pandang, pola pikir, dan kepentingan dunia global yang menempatkan seni dan budaya sebagai hal yang terpinggirkan. Berapa banyak orang tua yang rela mengeluarkan biaya yang mahal untuk mencetak anaknya menjadi manusia yang cerdas dalam bidang eksakta? Dan berapa banyak orang tua yang peduli ketika melihat anaknya tidak bisa berbahasa daerah dengan baik dan benar? Hal ini jelas merupakan dua sisi mata uang logam yang saling berbenturan di dalam masyakarat yang semakin terbanjiri oleh informasi dan kecanggihan tekhnologi. Kondisi ini pada akhirnya menyebabkan begitu banyaknya seni dan budaya yang ada, tumbuh, berkembang, dan memiliki ke-khasan masing-masing sesuai dengan daerah lingkungan alam dan sosialnya tercerabut dari akarnya dan tumbang satu per satu.   

B. NILAI LUHUR BUDAYA LOKAL
Harus diakui bahwa bahwa sistem pendidikan, metode berpikir, filsafat, dan ilmu pengetahuan yang ada di Indonesia sekarang adalah warisan kolonial yang berdasarkan peresepsi Eropa-Barat, walaupun materinya berbeda. Secara tidak disadari hampir keseluruhan ‘budaya’ manusia Indonesia modern adalah budaya yang kehilangan akar bahkan tercerabut dari nilai-nilai luhur budaya aslinya.  Akibatnya jelas, budaya yang ada adalah budaya yang mengambang tanpa bentuk, budaya pop, dan suka meniru (budaya konsumtif dan imitative). Dasar budaya lokal Indonesia yang berakar pada kenyataan di lapangan—daerah masing-masing, tipografi alam, dan kultur sosial masyarakat—merupakan kebalikan dari budaya Eropa-Barat yang mengedepankan logika. Seni merupakan produk dari budaya yang ada, tumbuh, berkembang, dan diterapkan dalam masyarakat. Seni yang demikian tidak mungkin sama antara satu daerah dengan daerah lainnya, serupa mungkin iya. Hal inilah yang seharusnya disadari dan digali oleh siapa saja yang mengaku sebagai bagian dari masyarakat. Budaya-budaya lokal dengan nilai-nilai luhurnya adalah sumber yang sangat kaya dan menunggu untuk dieksplorasi oleh kita. Mitos, legenda, cerita rakyat, dongeng, upacara adat, petuah, pitutur, dan ritual-ritual lainnya yang ada di sekeliling kita, yang ada di lingkungan kita, yang ada di tiap-tiap desa/kelurahan, kecamatan, dan kabupaten/kota adalah samudera ide yang tidak akan ada habisnya untuk digali, ditelaah, dikaji, dan dieksplorasi untuk kemudian diwujudkan dalam bentuk karya—tulis/sastra, gerak, suara, rupa, musik,drama, dll—yang tentu saja diberikan sentuhan kreatifitas dari tiap masing-masing penulisnya, sehingga karya-karya tersebut tetap mencerminkan kekuatan nilai-nilai luhur budaya lokal masing-masing dan sesuai dengan alam serta budaya saat ini.  

C. AMATI, ANALISIS, dan ADAPTASI
Ada banyak metode dan cara untuk menulis dan menuangkan ide yang berasal dari nilai-nilai budaya local. Satu rumusan yang paling mudah adalah prinsip 3A, yaitu:
1. Amati
Tiap daerah, lingkungan, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, dan suku memiliki nilai-nilai luhur budayanya sendiri yang terkadang lepas dari pandangan kita. Amati dengan seksama apa yang disediakan lingkungan, daerah, dan tempat kita tinggal. Tampung semua informasi yang dilihat dan didengar tanpa harus memberikan penilaian apapun. Cari segala bentuk budaya yang pernah ada, ada, tumbuh berkembang, dan menjadi ciri khas—legenda, cerita rakyat, mitos, sejarah, upacara adat, petuah, pitutur, dll—yang seringnya tidak kita sadari keberadaannya. Kumpulkan informasi-informasi tersebut, dan lakukan pencatatan untuk memudahkan kita menyusunnya kembali menjadi tulisan yang lebih rinci.
2. Analisis
Setelah semua informasi tersebut kita dapatkan, pilah dan pilih informasi-informasi tersebut ke dalam beberapa tema dan subtema. Misalnya: Legenda, Mitos, Upacara adat, dll. Lakukan analisis dengan merenungkan semua informasi tersebut dengan hati dan pikiran yang terbuka, tanpa harus memberikan penilaian baik buruk. Berikan apresiasi dengan wajar tanpa melibatkan ego dan kepentingan pribadi terhadap informasi-informasi tersebut. Kita harus berani mengakui dan memberikan penghargaan pada informasi-informasi tersebut karena kita sendiri belum tentu bisa menciptakan hal yang sama seperti halnya apa yang telah kita dapat dari informasi tersebut. Keberanian untuk memberikan apresiasi dengan terbuka, dengan wajar, tentu saja membutuhkan keluasan wawasan, keluasan cara berpikir, dan sudut pandang yang fleksibel, sehingga informasi-informasi tersebut akan memberikan banyak hal baru yang siap untuk dituangkan menjadi karya. Proses menganalisa merupakan proses pematangan dan ‘kehamilan’ dari ide yang telah didapatkan dari informasi-informasi yang telah didapatkan sebelum ide tersebut dilahirkan dalam bentuk karya.
3. Adaptasi 
“Menulis merupakan sebuah proses yang jujur, yang tidak direkayasa, sesuai dengan pengalaman batin, pengalaman hidup, tingkat intelektual si penulis, walaupun pada prosesnya dia akan bersentuhan dengan simbol, bentuk, dan kata sebagai alat menyampaikannya.” (Rendra dikutip Soni Farid Maulana: Apresiasi Menulis Puisi, 2008).  

Senada dengan hal tersebut, Emha Ainun Najib menyatakan bahwa: “Menulis sajak merupakan sesuatu yang jujur dan tidak bisa dibuat-buat.”
(Emha Ainun Najib: Slilit Sang Kyai, Cetakan VI, 1992).  

Sedangkan Subagio Satrowardoyo menyatakan bahwa: “Pada akhir hidupnya, Chairil baru mencapai kesatuan iramanya dengan gerak alam semesta. Setelah menjadi bocah cilik berkejaran dengan bayangan di dalam angan-angan negeri dan budaya asing, ia kembali kepada realitas dunia sekelilingnya yang memberinya penglihatan yang hening. Kesatuan irama dengan alam semesta itu mendekatkan Chairil pada sikap hidup masyarakat sekelilingnya, yang menentukan ciri dirinya sebagai homo religiosus.”
(Subagio Sastrowardoyo: Sosok Pribadi Dalam Sajak, 2000).  

Semua pendapat tersebut memberikan sebuah garis besar tentang ‘mengadaptasi’ yang merupakan proses berkelanjutan dari mengamati, mendengarkan, mengumpulkan, mencatat→menganalisis→merenungkan→menuliskan kembali. Proses akhir inilah yang menuntut kreatifitas penulis dalam mengadaptasi semua informasi dari nilai-nilai luhur budaya lokal yang telah didapatkannya dalam bentuk karya—sastra, gerak, suara, musik, rupa, dan drama—yang memiliki nilai-nilai baru/terbarukan tanpa melepaskan diri dari akar budayanya sendiri.

Nilai-nilai luhur budaya lokal tersebut dituangkan ulang dalam bentuk karya baru yang disesuaikan dengan kondisi jaman dan sosial masyarakat yang ada sekarang, sehingga nilai-nilai luhur budaya lokal tersebut tetap dan terus mendapatkan tempat sebagaimana ia telah diwariskan oleh para leluhur.   

III. PENUTUP
Seorang penulis dan manusia yang berkecimpung di dalam dunia seni adalah manusia-manusia yang memiliki kreatifitas, daya renung, imajinasi, pola pikir, wawasan, dan kemauan belajar yang tinggi. Tidak ada yang namanya ‘bad mood’ maupun kering ide bagi seorang penulis dan pelaku seni, karena mereka memiliki sumber ide yang berasal dari nilai-nilai budaya local yang berserakan di sekelilingnya. Seorang penulis dan pelaku seni memiliki kemampuan dan kecakapan hidup (life skill) berdasarkan pengalaman pribadi, budi pekerti, dan kemampuan berpikir kritis dalam tiap waktu dan kesempatan.                                        

Semua proses tersebut merupakan ‘pengalaman’ yang dapat dijadikan sebagai sumber dan bahan untuk melahirkan karya. Pengalaman-pengalaman ini, tentu saja tidak pernah terlepas dari nilai-nilai kehidupan, nilai-nilai budaya lokal yang didapatkan setiap manusia sejak ia masih kecil.  Menulislah, karena siapa saja bisa menulis. Setiap orang memiliki harta karun bernama pengalaman pribadi, masa kanak-kanak, dan nilai-nilai budaya yang tertanam sejak ia dilahirkan ke dunia. Menulis adalah satu dari berbagai cara untuk mengabadikan dan meninggalkan jejak keberadaan manusia, sebagaimana yang disampaikan oleh Bung Karno: Jas Merah yaitu Jangan melupakan sejarah.


DAFTAR RUJUKAN  
Soemardjo, Jakob, 2000, Filsafat Seni,
— Rilke, Reiner Maria, Letters To A Young Poet, terjemahan Sutardji Calzoum Bachri: Surat Kepada Penyair Muda
AAM Jelantik, Estetika, Sebuah Pengantar, 1999, Masyarakat Seni Pertunjukan, Bandung Sutjipto, Katjik, 1973, Seni Rupa Sebagai Alat Pendidikan, IKIP Malang
Maulana, Soni Farid, 2008, Apresiasi Dan Proses Kreatif Menulis Puisi, Bandung Sastrowardoyo, Subagio, 2000, Sosok Pribadi Dalam Sajak, Balai Pustaka, Jakarta
Najib, Emha Ainun, 1992, Slilit Sang Kyai, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta
Garrison & Archer, 2004, Model Hubungan Berpikir Reflektif dan Kegiatan Inkuiri, — Undang-Undang No 20, tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional
Akhudiat, 2014, Materi Penulisan Naskah Drama Fragmen Budi Pekerti, Malang
Hidajat, Arif, 2015, Bimbingan Teknis Seni Teater Tradisi Jenjang Pendidikan Menengah, UPT Dikbangkes Jatim, Malang, 2015

Penulis : Rahman El Hakim

Senin, 27 Juni 2016

Tips Bikin Narasi Kece



Tentu saja ‘kece’ di sini itu relatif. Kece untuk si penulis, bisa jadi malah lebay untuk pembacanya. Tidak apa, orang biasa saja diharuskan untuk bersabar, apalagi kita penulis, sabarnya harus berlapis, Kawan! Ingat, kita penulis.

Di bawah ini ada 4 tips untuk membuat narasi yang bagus:
4. Rajin mulung kata-kata unik.
Bagaimana caranya? Bacalah! Sesering yang kau bisa. Klise? Yep. Tapi percayalah, ini benar-benar ampuh. Baca apa saja, buntelan kacang, majalah bekas, buku-buku sekolah, sinopsis novel. Dengan begitu kita akan menemukan kata-kata ajaib yang bisa jadi baru pertama kita dengar.

Contohnya saja, saya menemukan kata plural di LKS Kewarganegaraan SMA. Saya akan mencatat kata tersebut di buku atau sekedar disimpan di draft ponsel. Kalau tidak tahu artinya, tangan saya langsung gatel untuk cepat-cepat browsing. Nah, ketika suatu kali saya mengalami kesulitan dalam merangkai kalimat, saya sudah memiliki sejumlah ‘investasi’ kata yang dapat membantu kebuntuan. Saya bisa segera menerapkan kata plural di dalam kalimat: Dadanya panas. Dada sebagai tempat sampah hidupnya, tempat penyimpanan berbagai macam perasaan yang plural dan kompleks.

Enak, kan?

3. Jadi tukang contek ulung.
Contek saja kalimat orang yang menurutmu menarik, lalu sesuaikan dengan kejadian dan bahasamu sendiri. Dalam cerpen Pilar, saya menampilkan kalimat yang saya comot dari komentar orang di salah satu blog. Komentar tersebut kurang lebih berbunyi, "Banyaknya manusia yang beragama membuat dunia ini serong ke kanan. Saya memilih menjadi atheis dan berada di sebelah kiri agar dunia ini menjadi lebih balance."

Kalimat tersebut saya anggap menarik, sampai-sampai sudah mengendap sekitar satu tahun lebih di ‘loker’ dalam kepala. Lalu kalimat itu saya ubah menurut versi sendiri menjadi “Dunia sudah sesak oleh manusia dengan segala kisah cinta mereka yang menggelikan. Itu menyebabkan dunia ini cenderung condong ke kanan. Aku akan berada di sebelah kiri agar setidaknya mengarahkan dunia ke sisi yang lebih seimbang."

Menurut bang Isa Alamsyah dan Bang Agung Pribadi, kalimat baru yang saya buat tersebut bukanlah bentuk dari plagiat.

2. Improvisasi.
Ini istilah saya pribadi, ada dua macam bentuk dari improvisasi, improvisasi kata dan improvisasi kalimat (saya akan senang bila ada yang memberikan istilah lain yang lebih tepat). Bagaimana caranya melakukan improvisasi? Simpel. Untuk improvisasi kata, carilah sinonim kata sebanyak-banyaknya. Kalau dalam satu paragraf kita menuliskan kata ‘sakit’ hingga tiga kali misalnya, kita bisa menggunakan persamaan katanya untuk mengganti dua kata ‘sakit’ selanjutnya. Misal dengan kata ngilu, nyeri, perih, pedih dan sebagainya.

Bagaimana dengan improvisasi kalimat? Dalam hal ini, kita bisa benar-benar paham apa manfaat dari majas (gaya bahasa). Lebih baik hindari istilah-istilah yang sudah sering kita dengar, dan cobalah untuk membuat majas yang lebih segar.

Contoh 1:
Air mata cowok itu menganak sungai (majar hiperbola.)

Contoh 2:
Sepertinya ada buliran air yang ber-ice skating menuruni pipi cowok di sebelahnya. (majas personifikasi -> yang bisa ber-’ice skating’ kan manusia.)

Coba bandingkan, mana yang lebih unik?

1. Show, don’t tell. Benarkah?
Penulis yang sudah mahir selalu saja menyarankan kepada juniornya tentang istilah ini. Apa sih maksudnya? Tunjukkan, jangan ceritakan? Apa bedanya?

Oke, misalnya saya punya kalimat:
Mbak Nainy kelelahan karena berjualan cendol dari pagi sampai sore.
Itulah tell. Bagaimana rasanya membaca kalimat itu? lempeng? Fine!

Lalu saya punya kalimat lagi:
Langit sudah temaram, Mbak Nainy menyandarkan tubuh dengan malas. Kakinya meleot di tanah sementara tangannya menggelambir di kedua sisi tubuh. Beberapa kali sempat terdengar bunyi gemerutuk dari persendian yang dia tarik ke atas.
Dan itulah show.

Apa show lebih baik daripada tell? Mungkin. Tapi apa jadinya kalau kita membaca sebuah tulisan yang terlalu banyak show? Dari contoh di atas, untuk menunjukkan bahwa mbak Nainy kelelahan saja saya menuliskannya dalam 3 kalimat, dan untuk menggambarkan ‘sore’ saya butuh tiga kata. Lalu bagaimana kalau kita menjumpainya dalam cerpen atau novel? Apa setiap adegan harus digambarkan sedetail itu? Tentu saja tidak. Variasikanlah ‘show’ dan ‘tell’ secara tepat. Dan percayalah, narasi yang kita buat akan lebih ciamik.

Maaf untuk contoh yang tidak sempurna, contoh-contoh di atas diambil dari dokumen pribadi. Artikel ini dibuat agar dapat memberi manfaat bagi mereka yang rendah hati, bagi mereka yang mau belajar dari siapa saja, bagi mereka yang begitu mencintai menulis dan bercita-cita menjadi penulis, bagi mereka yang tidak pelit untuk berbagi ilmu. Saya begitu berharap teman-teman yang membaca ini pada akhirnya bisa berkata, “owalah... begini to?” sambil manggut-manggut, kemudian bergegas mempraktikkannya.

Mari berbagi dengan menulis!

Penulis : Wulan Mardiana

Kamis, 23 Juni 2016

Sembilan Tips Menulis ala Asma Nadia


Sembilan tips menulis dibawah ini langsung dikutip dari fanspage Asma Nadia.

Tips 1
Buat outline sederhana bagaimana tulisan akan bergerak.
Bukan keharusan tapi akan sangat membantu bagi pemula.
Outline membantu penulis untuk fokus dan tidak kehilangan arah. Jangan bayangkan outline seperti pelajaran kerangka karangan di sekolah yang terbagi atas pembukaan, isi, penutup, tapi bebaskan imajinasimu dengan rencana.

Tips 2
Buat opening yang memikat.
Hindari lead cerita yang biasa-biasa saja. Be creative!
Opening adalah daya tarik awal bagi pembaca untuk terus menikmat tulisanmu. Buat opening yang menarik dan tidak biasa. Di workshop menulis, kami membuat istilah "kutukan pada", "kutukan cuaca", “kutukan daun, angin, dsb" untuk opening yang terlalu umum dipakai.

Tips 3
Beri nyawa pada tokoh-tokohmu."
Tokoh dalam sebuah cerita bukan sekedar nama. Buang tokoh tidak penting. Cirinya ada atau tiada tak akan mengubah Cerita.
Tips 4
Garap setting (waktu/tempat) untuk memperkuat cerita.
Beri warna lokal sesuai kebutuhan.
Setting bukan sekedar tempelan, tapi memang kebutuhan. Pilih kekhasan satu setting untuk kepentingan cerita.

Tips 5
Κenαρa sebuah cerita hambar atau terasa monoton,
karena tidak ada Konflik/konflik tidak tergarap!
Perhatikan konflikmu.
Konflik adalah nyawa sebuah cerita. Tanpa konflik, cerita akan hambar, monoton dan membosankan. Konfliklah membuat pembaca menjadi tegang, penasaran berpihak dan ingin tahu ending cerita.
Tips 6
Olah setiap unsur cerita dengan Sabar.
Beri perhatian pada detail yang harus dimunculkan
agar logika cerita mantap.
Setiap cerita punya logika cerita sendiri. Logika cerita tidak harus sama dengan logika normal umumnya. Yang penting, buat pembaca memahami logika tersebut dan pastikan logika cerita tersebut konsisten dari hingga akhir.

Tips 7
Hindari kebetulan dalam cerita,
kecuali bisa dipertanggungjawabkan.
Khususnya untuk penyelesaian cerita.

Tips 8
Saring dialog, buang yang tidak berfungsi.
Cerita tanpa dialog akan hambar, terlalu banyak dialog juga terasa aneh. Buat komposisi yang tepat antara narasi dan dialog.

Tips 9
Pada nama terselip karakter tokohmu. Pilih dengan bijaksana.

Mood dalam menulis


Saya gak mood menulis!
Sering merasa begitu.
Tahu kan itu bukan alasan, itu tidak lain adalah excuse.
Mood hanya muncul karena kamu belum menjadikan menulis sebagai sesuatu yang must.
Bukan keharusan tapi sekedar hobi.
Selama masih seperti itu maka mood akan merusak produktivitas kamu.

Gak percaya?
Buktinya, selama belasan tahun di dunia pers, saya gak pernah ketema wartawan yang bilang, "Saya gak bisa menulis berita karena gak mood"
Gak pernah.
Karena mereka sadar menulis berita adalah must, maka tidak membuka pintu bagi mood.

Mungkin quote penulis script kelas dunia ini juga bisa jadi pembelajaran.

“Writing is both a pleasure and a struggle. There are times when it’s really aversive and unpleasant, and there are times when it’s wonderful and fun and magical, but that’s not the point. Writing is my job. I’m not a believer of waiting for the muse. You don’t put yourself in the mood to go to your nine-to-five job, you just go. I start in the morning and write all day. Successful writers don’t wait for the muse to fill themselves unless they’re geniuses. I’m not a genius. I’m smart, I have some talent, and I have a lot of stubbornness. I persevere. I was by no means the best writer in my class in college. I’m just the one still writing.” – Akiva Goldsman, I, ROBOT, I AM LEGEND, A BEAUTIFUL MIND, CINDERELLA

" Menulis adalah kesenangan dan juga perjuangan. Ada saat-saat ketika menulis benar-benar menyebalkan dan tidak menyenangkan, dan ada saat-saat itu menulis itu indah, menyenangkan dan magis. Tapi itu bukan intinya. Menulis adalah pekerjaan saya. Aku tidak bisa menunggu rasa suka muncul. Anda tidak menempatkan diri dalam mood untuk pergi ke pekerjaan Anda jam sembilan-ke- jam lima , Anda hanya pergi. Aku mulai di pagi hari dan menulis sepanjang hari. Penulis sukses tidak menunggu mood untuk mengisi sendiri kecuali mereka jenius. Aku bukan jenius . Aku pintar, saya memiliki beberapa bakat, dan saya memiliki banyak sifat keras kepala. Aku bertahan. Saya bukan penulis terbaik di kelas saya di perguruan tinggi. Aku hanyanya satu yang masih menulis " - .
Akiva Goldsman
Penulis script I ROBOT, I AM LEGEND, A Beautiful Mind, CINDERELLA MAN

Jadi masih mau tergantung mood?

Karya : Isa Alamsyah

Selasa, 21 Juni 2016

Latihan Deskripsi "Show don't tell"


Dalam menulis sangat dianjurkan untuk menerapkan "Show don't tell"
Jadi kita tidak menjelaskan tapi mendeskripsikan.

Sederhananya begini.
Kasus : Bos kamu marah
Apakah bos kamu itu mengatakan, "Saya marah!"
Tapi yang ada, dia menaikan nada suara, tangannya nunjuk nunjuk, ekspresinya mengerikan.Si bos gak bilang saya marah, tapi kita tahu dia marah.
Nah menulis dengan show seperti itu.

Kita gak bilang tokohnya cantik tapi pas baca deskrisinya kita tahu dia cantik.

Dalam menulis memang kalimat sederhana menjadi panjang - tapi kalau kita membuatnya menarik justru jadi kelebihan.

Contohnya,
Kalimat show
Dedi Padiku itu norak melihat monas.
Bentuk tell-nya bagaimana?
Dedi Padiku baru pertama kali melihat monas. Impian terbesar anak kampung ini adalah melihat monas dengan mata kepalanya. Begitu sukanya, sampai sampai ia memutuskan untuk menginap semalaman di taman monas. Pagi hari ketika meninggalkan monas, ia menyempatkan menengok ke belakang dan melambaikan tangannya pada monas.

Contoh 1
Tahu Hermione di Harry Potter?
Kalimat tell:
Hermione sangatlah pintar.
Kalimat show :
Apapun soal sihir yang ditanya guru, Hermione selalu tahu jawabannya.
itu contoh, jadi tanpa dibilang pintar dari deskrispsi itu orang tahu Hermione pintar.
Contoh 2
Kalimat tell
Asma Nadia penulis ngetop.
Kalimat show
Buku-buku Asma Nadia selalu berjejer di deretan buku best seller.
Kalau kamu udah terbiasa membuat menulis dengan pendekatan show, tulisan kamu akan jauh lebih bagus.

Semoga bermanfaat. Dan silahkan coba tuliskan kalimat show dari kalimat di bawah ini di kolom komentar :
1. Megawati presiden perempuan pertama di Indonesia
2. Jokowi bukan ayahku
3. Anis anak koruptor pajak

Oleh : Isa Alamsyah