Senin, 27 Juni 2016

Tips Bikin Narasi Kece



Tentu saja ‘kece’ di sini itu relatif. Kece untuk si penulis, bisa jadi malah lebay untuk pembacanya. Tidak apa, orang biasa saja diharuskan untuk bersabar, apalagi kita penulis, sabarnya harus berlapis, Kawan! Ingat, kita penulis.

Di bawah ini ada 4 tips untuk membuat narasi yang bagus:
4. Rajin mulung kata-kata unik.
Bagaimana caranya? Bacalah! Sesering yang kau bisa. Klise? Yep. Tapi percayalah, ini benar-benar ampuh. Baca apa saja, buntelan kacang, majalah bekas, buku-buku sekolah, sinopsis novel. Dengan begitu kita akan menemukan kata-kata ajaib yang bisa jadi baru pertama kita dengar.

Contohnya saja, saya menemukan kata plural di LKS Kewarganegaraan SMA. Saya akan mencatat kata tersebut di buku atau sekedar disimpan di draft ponsel. Kalau tidak tahu artinya, tangan saya langsung gatel untuk cepat-cepat browsing. Nah, ketika suatu kali saya mengalami kesulitan dalam merangkai kalimat, saya sudah memiliki sejumlah ‘investasi’ kata yang dapat membantu kebuntuan. Saya bisa segera menerapkan kata plural di dalam kalimat: Dadanya panas. Dada sebagai tempat sampah hidupnya, tempat penyimpanan berbagai macam perasaan yang plural dan kompleks.

Enak, kan?

3. Jadi tukang contek ulung.
Contek saja kalimat orang yang menurutmu menarik, lalu sesuaikan dengan kejadian dan bahasamu sendiri. Dalam cerpen Pilar, saya menampilkan kalimat yang saya comot dari komentar orang di salah satu blog. Komentar tersebut kurang lebih berbunyi, "Banyaknya manusia yang beragama membuat dunia ini serong ke kanan. Saya memilih menjadi atheis dan berada di sebelah kiri agar dunia ini menjadi lebih balance."

Kalimat tersebut saya anggap menarik, sampai-sampai sudah mengendap sekitar satu tahun lebih di ‘loker’ dalam kepala. Lalu kalimat itu saya ubah menurut versi sendiri menjadi “Dunia sudah sesak oleh manusia dengan segala kisah cinta mereka yang menggelikan. Itu menyebabkan dunia ini cenderung condong ke kanan. Aku akan berada di sebelah kiri agar setidaknya mengarahkan dunia ke sisi yang lebih seimbang."

Menurut bang Isa Alamsyah dan Bang Agung Pribadi, kalimat baru yang saya buat tersebut bukanlah bentuk dari plagiat.

2. Improvisasi.
Ini istilah saya pribadi, ada dua macam bentuk dari improvisasi, improvisasi kata dan improvisasi kalimat (saya akan senang bila ada yang memberikan istilah lain yang lebih tepat). Bagaimana caranya melakukan improvisasi? Simpel. Untuk improvisasi kata, carilah sinonim kata sebanyak-banyaknya. Kalau dalam satu paragraf kita menuliskan kata ‘sakit’ hingga tiga kali misalnya, kita bisa menggunakan persamaan katanya untuk mengganti dua kata ‘sakit’ selanjutnya. Misal dengan kata ngilu, nyeri, perih, pedih dan sebagainya.

Bagaimana dengan improvisasi kalimat? Dalam hal ini, kita bisa benar-benar paham apa manfaat dari majas (gaya bahasa). Lebih baik hindari istilah-istilah yang sudah sering kita dengar, dan cobalah untuk membuat majas yang lebih segar.

Contoh 1:
Air mata cowok itu menganak sungai (majar hiperbola.)

Contoh 2:
Sepertinya ada buliran air yang ber-ice skating menuruni pipi cowok di sebelahnya. (majas personifikasi -> yang bisa ber-’ice skating’ kan manusia.)

Coba bandingkan, mana yang lebih unik?

1. Show, don’t tell. Benarkah?
Penulis yang sudah mahir selalu saja menyarankan kepada juniornya tentang istilah ini. Apa sih maksudnya? Tunjukkan, jangan ceritakan? Apa bedanya?

Oke, misalnya saya punya kalimat:
Mbak Nainy kelelahan karena berjualan cendol dari pagi sampai sore.
Itulah tell. Bagaimana rasanya membaca kalimat itu? lempeng? Fine!

Lalu saya punya kalimat lagi:
Langit sudah temaram, Mbak Nainy menyandarkan tubuh dengan malas. Kakinya meleot di tanah sementara tangannya menggelambir di kedua sisi tubuh. Beberapa kali sempat terdengar bunyi gemerutuk dari persendian yang dia tarik ke atas.
Dan itulah show.

Apa show lebih baik daripada tell? Mungkin. Tapi apa jadinya kalau kita membaca sebuah tulisan yang terlalu banyak show? Dari contoh di atas, untuk menunjukkan bahwa mbak Nainy kelelahan saja saya menuliskannya dalam 3 kalimat, dan untuk menggambarkan ‘sore’ saya butuh tiga kata. Lalu bagaimana kalau kita menjumpainya dalam cerpen atau novel? Apa setiap adegan harus digambarkan sedetail itu? Tentu saja tidak. Variasikanlah ‘show’ dan ‘tell’ secara tepat. Dan percayalah, narasi yang kita buat akan lebih ciamik.

Maaf untuk contoh yang tidak sempurna, contoh-contoh di atas diambil dari dokumen pribadi. Artikel ini dibuat agar dapat memberi manfaat bagi mereka yang rendah hati, bagi mereka yang mau belajar dari siapa saja, bagi mereka yang begitu mencintai menulis dan bercita-cita menjadi penulis, bagi mereka yang tidak pelit untuk berbagi ilmu. Saya begitu berharap teman-teman yang membaca ini pada akhirnya bisa berkata, “owalah... begini to?” sambil manggut-manggut, kemudian bergegas mempraktikkannya.

Mari berbagi dengan menulis!

Penulis : Wulan Mardiana


EmoticonEmoticon