Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juli 2016

Bersikap Positif dan Berkorban untuk Meraih Kebaikan


Seorang pria tersesat di gurun pasir. Ia hampir mati kehausan. Akhirnya, ia tiba di sebuah rumah kosong. Di depan rumah tua tanpa jendela dan hampir roboh itu, terdapat sebuah pompa air. Segera ia menuju pompa itu dan mulai memompa sekuat tenaga. Tapi sayangnya, tidak ada air yang keluar.

Lalu ia melihat ada kendi kecil di sebelah pompa itu dengan mulutnya tertutup gabus dan tertempel kertas dengan tulisan,”Sahabat, pompa ini harus dipancing dengan air dulu. Setelah Anda mendapatkan airnya, mohon jangan lupa mengisi kendi ini lagi sebelum Anda pergi.” Pria itu mencabut gabusnya dan ternyata kendi itu berisi penuh air.

“Apakah air ini har
us dipergunakan untuk memancing pompa? Bagaimana kalau tidak berhasil? Nanti tidak ada air lagi. Bukankah lebih aman kalau saya minum airnya dulu daripada nanti mati kehausan kalau ternyata pompanya tidak berfungsi? Untuk apa menuangkannya ke pompa karatan itu hanya karena instruksi di atas kertas kumal yang belum tentu benar?” Begitu pikirnya.

Untung suara hatinya mengatakan bahwa ia harus mencoba mengikuti nasihat yang tertera di kertas itu, sekali pun itu berisiko ia akan menderita kehausan. Ia menuangkan seluruh isi kendi itu ke dalam pompa yang karatan itu dan dengan sekuat tenaga memompanya.

Benar saja! Air keluar dengan melimpah. Pria itu pun minum sepuasnya.

Setelah istirahat memulihkan tenaga dan sebelum meninggalkan tempat itu, ia mengisi kendi itu sampai penuh, menutupkan kembali gabusnya dan menambahkan beberapa kata di bawah instruksi pesan itu: “Saya telah melakukannya dan berhasil. Engkau harus mengorbankan semuanya terlebih dahulu, sebelum bisa menerima kembali secara melimpah. PERCAYALAH!

Cakrawala Kematian

 
Salah satu hal tersulit yang bisa kita lakukan adalah melepas orang yang begitu kita cintai menuju kematian. Cerita berikut ini bisa membantu.

Pada masa-masa sebelum adanya pesawat terbang yang andal, kebanyakan orang bepergian dari benua ke benua dengan kapal penumpang besar lintas samudra. Saat kapal hendak berlayar, para penumpang akan berbaris di dek kapal, di sisi dermaga di mana keluarga dan sahabat mereka berdiri.

Tatkala sirine uap berbunyi menandakan keberangkatan, mereka yang di atas kapal dan mereka yang di dermaga melambai, memberikan ciuman dari jauh, dan meneriakkan salam perpisahan sembari kapal perlahan menjauh. Tak lama, kapal itu terlalu jauh bagi mereka yang di dermaga untuk membedakan siapa-siapa di jajaran para penumpang yang masih berdiri di dek, namun mereka masih melambai dan memandang.

Beberapa menit kemudian, perahu itu bahkan terlalu jauh untuk bisa melihat kerumunan penumpangnya, namun masih saja orang-orang yang mengasihi akan tetap di dermaga menatap kapal yang kian melenyap, dimana orang yang mereka cintai berada.

Kemudian kapal akan mencapai suatu garis pembatas cakrawala, lalu lenyap sama sekali. Namun, walaupun keluarga dan kawan di daratan tidak bisa melihat orang yang mereka kasihi lagi, apalagi bicara atau menyentuh mereka, mereka tahu bahwa orang yang mereka kasihi tidak lenyap sepenuhnya. Mereka hanya pergi melintasi suatu garis, cakrawala, yang memisahkan kita dari yang nan jauh disana. Mereka tahu bahwa mereka akan berjumpa lagi.

Hal yang sama bisa dikatakan tatkala orang yang kita cintai meninggal. Jika kita beruntung, kita berada di sisi pembaringan mereka, memeluk mereka, dan mengucap salam perpisahan terakhir. Kemudian mereka berlayar menuju samudra, yaitu kematian. Mereka makin memudar dari kita.

Pada akhirnya,mereka mencapai cakrawala, garis pembatas yang memisahkan kehidupan ini dengan yang di luar sana. Setelah mereka melewati garis itu, kita tidak bisa melihat mereka lagi, apalagi bicara atau menyentuh mereka, namun kita tahu bahwa mereka belum lenyap sama sekali.

Mereka hanya melewati suatu garis, kematian, yang memisahkan kita dari yang di luar sana. Kita akan bertemu satu sama lain lagi.

Jangan Berhenti di Tengah Badai

Image : repulika.co.id
Pada suatu hari, ada seorang anak yang sedang berkendara dengan ayahnya. Seperti biasanya mereka bekendaraan menuju ke suatu tempat. Dan si anak yang mengemudikan mobil .

Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Terlihat beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti.

"Bagaimana Ayah? Kita berhenti?" Si anak bertanya.

"Teruslah mengemudi!", kata sang Ayah.

Si anak tetap menjalankan mobil mengikuti perintah ayahnya. Langit makin gelap, angin bertiup makin kencang. Hujanpun turun dengan derasnya .

Beberapa pohon besar bertumbangan, bahkan ada pohon-pohon kecil yang diterbangkan angin. Suasananya sangat menakutkan. Banyak kendaraa-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.

"Ayah...?"

"Teruslah mengemudi, tingkatkan perhatian dan ekstra hati-hati!" Kata sang Ayah sambil terus melihat ke depan. Si Anak tetap mengemudi dengan bersusah payah. Hujan lebat menghalangi pandangan sampai hanya berjarak beberapa meter saja. Anginpun mengguncang-guncang mobil kecil itu. Si Anak mulai merasa takut. Tapi dia tetap mengemudikan mobil sesuai perintah ayahnya walaupun sangat perlahan.

 
Setelah melewati beberapa kilometer ke depan, terasakan hujan mulai mereda dan angin mulai berkurang. Setelah beberapa killometer lagi, sampailah mereka di tempat yang kering dan mereka melihat matahari bersinar muncul dari balik awan.

"Silakan kalau mau berhenti sekarang dan keluarlah", kata sang Ayah tiba-tiba..

"Kenapa sekarang?" Tanya si anak terheran-heran.

"Tengoklan kebelakang agar engkau bisa melihat dirimu seandainya engkau tadi berhenti di tengah badai dan angin ribut itu ".

Si anak berhenti dan keluar dari mobil, lalu dia menengok jauh ke belakang, di sana badai masih berlangsung. Si anak lalu membayangkan bila mereka berhenti dan terjebak, segera diapun berdoa untuk mereka yang masih terjebak di sana semoga mereka selamat.

Dan disinilah si anak mengerti dan menyadari bahwa jangan pernah berhenti di tengah badai karena akan terjebak dalam suatu ketidakpastian dan ketakutan yang sangat , karena kita tak akan tahu kapan badai akan berakhir serta apa yang akan terjadi selanjutnya, lebih baik segera jauhi badai itu sebisa mungkin.

Ibaratnya jika kita sedang menghadapi "badai" kehidupan, maka teruslah berjalan, teruslah berusaha . jangan pernah berhenti, jangan pernah putus asa karena bila tidak maka kita akan tenggelam dalam keadaan yang terus kacau, menakutkan dan penuh ketidak-pastian. Bagaikan Anda berada di tengah-tengah Badai yang sesungguhnya

Terkadang, kita lupa bahwa Allah (itu) Maha Penolong

Image : Pelita Hidup

Tidak kurang dari 10 ribu sel sperma dihasilkan alat reproduksi pria setiap harinya. Di sana benih manusia dirancang sedemikian rupa, supaya sel teramat kecil itu berhasil mengarungi perjalanan mencapai tujuan, sel telur di rahim perempuan.

Sel yang teramat kecil itu diproduksi seakan pesawat di pabrik-pabrik perakitan modern. Bagian ekor dibuat untuk menimbulkan gaya gerak dorong dengan perbuatannya, bagian tengah merupakan mesin penggerak ekor itu, dan bagian kepala yang dilapisi berbagai bahan kimia tahan racun berisi benih manusia yang mengandung miliaran informasi sifat manusia yang akan ditumbuhkan olehnya. Sel berekor itu disertai cairan gula sebagai bahan bakar untuknya terus berjalan dan berenang.

Semua bagian sel mani dan perlengkapannya itu dirancang karena perjalanan dan rintangan yang akan ditempuhnya cukup berat. Pada alat reproduksi perempuan, tempat di mana sel sperma itu nanti akan berenang, terdapat begitu banyak cairan asam, yang berguna sebagai pembunuh bakteri yang senantiasa mengancam kesehatan saluran kelahiran. Asam itu bisa mematikan, yang karenanya bisa mematikan pula bagi sperma. Namun berkat basa yang disiapkan di bagian kepala sperma, asam-asam itu berhasil dinetralkan.

Siapa perancangnya? Siapa yang sudah menyiapkan segala perangkat sel sperma yang begitu lengkap dan sempurna? Karena bukan alat reproduksi itu sendiri yang merancang juga bukan pula orang yang memilikinya, maka mau tak mau harus mengakui sang perancang itu Allah Pencipta semesta alam.
Allah menciptakan sel sperma dan dengan pengetahuannya memberi perlengkapan sperma itu agar sukses menggapai tujuannya yaitu membuahi sel telur.

Dari tulisan karya Harun Yahya keajaiban itu saya baca. Di sini kembali menguraikannya, sekedar mau mengajak pembaca mentafakuri satu hal, jika hal serumit dan seluarbiasa itu sanggup Dia lakukan, maka apa susahnya menyelesaikan masalah kita?

Biasa kita baca pada ayat kursi. "Dan tidak pernah lelah mengurus keduanya, langit dan bumi, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung."

Itu ayat sangat indah. Isinya penuh dengan pesan kasih sayang. Dia nyatakan sendiri sifat Dia yang, tidak pernah lelah sedikit pun mengurus langit dan bumi, supaya jangan pernah segan minta tolong sama Dia. Seakan kita dengar Dia berkata, lihatlah, mengurus langit bumi saja yang bagi manusia begitu besar tidak lelah, maka apalagi menyelesaikan urusah manusia yang hanya apalah-apalah.

Seringkali saya dapatkan masalah, akan tetapi saat hendak minta bantuan orang lain kita merasa segan. Khawatir merepotkan. Takut orang itu sedang banyak pekerjaan. Misalnya saat ban motor bocor di perjalanan, masuk bengkel, padahal sudah hak saya masuk bengkel menyatakan mau nambal ban, tapi jika melihat tukang bengkel sedang kerepotan dengan pekerjaannya, segan rasanya menyatakan minta bantuan sebelum ditanya.

Atau misalnya saat ada masalah usaha, mau minta bantuan biaya kepada orang tua, segan rasanya, mengingat Bapak pun sama, dia pun punya banyak beban: dia punya banyak utang, biaya keperluan makan, iuran listrik, dan masih banyak. Terasa segan minta bantuan kepada manusia karena sifat dasar mereka memang sama seperti kita, tak mau direpotkan. Tapi Allah...

Tapi Allah tidak, justru Dia sendiri menyatakan, Dia tidak sedang kerepotan. Silakan minta bantuan, silakan minta pertolongan.

Penulis : Dana

Senin, 27 Juni 2016

Kisah Nyata Ali bin Ibrahim Al-Naimi di Pertambangan Minyak



Disebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, diakhir tahun 1940-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya yang kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan segera mengisi air dingin ke dalam gelas.

Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan : “Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur”. Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.

Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan SD. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya, kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk'ku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur? Apakah kalau aku menjadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa menjadi insinyur seperti mereka?
Pertanyaan ini selalu terngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan “SIKAP POSITIF”.

Muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.

Tidak jarang olok-olok dari temanpun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA.

Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan.
Selanjutnya ia pulang ke negerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah menaklukkan ”rasa sakit”nya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja? Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaanpun karirnya menyusul yang lain.
Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya.

Suatu hari insinyur tersebut datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata : “Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam atas kekasaran dan keburukan perilaku'ku di masa lalu”.

Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: “Aku ingin berterima-kasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu-lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini.

Kini sikap positfnya sudah membuahkan hasil, lalu apakah ceritanya sampai disini?
Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.
Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company) perusahaan minyak terbesar didunia.

Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.
Atas prestasinya, ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.

Terbayangkah hanya dengan mengembangkan hina'an menjadi hal yang positif, isu air segelas dimasa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Itulah kekuatan”SIKAP POSITIF”
Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita.

Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya.
Apakah ingin hancur karenanya?
Atau bangkit dengan semangat “Bersikap Positif”