Sabtu, 09 Juli 2016

Kepingan Masa Lalu

Tags


Menatapnya bersama gadis lain. Berjalan beriringan menyusuri koridor kelas menuju gerbang sekolah. Aku hanya memandang tanpa kedip. Merasakan sisa-sisa kepedihan dalam penghianatan. Tapi aku yakin, gadis yang bersamanya itu hanya untuk memanasiku. Membuatku muak dan memaksaku melupakan tentangnya.

Obrolan singkat tak lupa ada diantara keduanya. Saling berucap salam. Lantas salah satu diantara keduanya pulang duluan. Sedang satunya menunggu jemputan.

Biasanya aku yang menatapnya bahagia . Mencuri pandangnya dari jarak sekitar tiga meter. Kala dia duduk menunggu mama ataupun kakaknya menjemput. Tapi sejak saat itu, semua berubah. Hanya tatapan nanar yang tercipta di mata.

Setelah itu, tak lama dia menghilang dari jejakku. Aku hanya menunggu. Berharap ia ingat pada sosokku. Namun, sia-sia sudah. Dia benar-benar melupakanku. Bahkan meng-upload foto dengan gadis waktu itu. Berdua. Ah, kasihan sekali aku. Makhluk penunggu.

Tak lama, dia memang hadir, tapi hadir untuk mengatakan salam perpisahan. Lantas pergi sejauh-jauhnya. Tanpa kabar. Nomor teleponnya juga sudah diganti.

Hingga pada saat aku sakit. Aku mengabarinya melalui sosmed. Berharap sekedar semangat muncul dari katanya. Justru sebaliknya. Menambah luka di dada.

"Hai, Aku sakit. Minta doanya biar segera sembuh." Tulisku di inbox dengannya.

"Kau ini, lupakan saja aku. Biar dirimu segera sembuh. Jangan pikirkan aku lagi." Jawabnya dengan enteng.

"Tapi semua ini sulit untukku. Tidak sepertimu dengan mudahnya," ujarku menimpali.

"Tinggalkan saja semua jejak kita. Hapus semua yang masih ada. Sudah. Mudah bukan?" Katanya seoalah dengan kebencian.

Aku menyerah. Melepas segala harapan yang masih ada. Hingga ketika lulus sekolah, aku putuskan pergi dari rumah. Berpindah tempat. Merantau. Bahkan buku diary selama dua tahunpun aku bakar.  Menutup segala luka.

Beberapa bulan aku kembali temukan kebahagiaan. Bersama kawan-kawan baru di duniaku. Kenangan-kenangan lama masih terawat. Kuacuhkan agar tak merusak kebahagiaan. Bersamaan saat itu pula, tiba-tiba dia hadir. Membawa kabar, mengajakku kembali seperti dulu. Bersahabat baik. Saling melengkapi. Terlambat sudah. Hatiku telah membatu. Aku punya harga diri. Dulu aku mengemis kasih sayangnya. Tak sedikitpun hatinya tergerak. Maka aku juga melakukan hal sama padanya. Bukan karena dendam, tapi aku cukup tahu bagaimana permainanya.

"Lupakan saja tentang aku, sebagaimana kau dulu menyuruhku melupakanmu," ujarku tegas padanya.

Penulis : Dee


EmoticonEmoticon