Kamis, 23 Juni 2016

Sembilan Tips Menulis ala Asma Nadia


Sembilan tips menulis dibawah ini langsung dikutip dari fanspage Asma Nadia.

Tips 1
Buat outline sederhana bagaimana tulisan akan bergerak.
Bukan keharusan tapi akan sangat membantu bagi pemula.
Outline membantu penulis untuk fokus dan tidak kehilangan arah. Jangan bayangkan outline seperti pelajaran kerangka karangan di sekolah yang terbagi atas pembukaan, isi, penutup, tapi bebaskan imajinasimu dengan rencana.

Tips 2
Buat opening yang memikat.
Hindari lead cerita yang biasa-biasa saja. Be creative!
Opening adalah daya tarik awal bagi pembaca untuk terus menikmat tulisanmu. Buat opening yang menarik dan tidak biasa. Di workshop menulis, kami membuat istilah "kutukan pada", "kutukan cuaca", “kutukan daun, angin, dsb" untuk opening yang terlalu umum dipakai.

Tips 3
Beri nyawa pada tokoh-tokohmu."
Tokoh dalam sebuah cerita bukan sekedar nama. Buang tokoh tidak penting. Cirinya ada atau tiada tak akan mengubah Cerita.
Tips 4
Garap setting (waktu/tempat) untuk memperkuat cerita.
Beri warna lokal sesuai kebutuhan.
Setting bukan sekedar tempelan, tapi memang kebutuhan. Pilih kekhasan satu setting untuk kepentingan cerita.

Tips 5
Κenαρa sebuah cerita hambar atau terasa monoton,
karena tidak ada Konflik/konflik tidak tergarap!
Perhatikan konflikmu.
Konflik adalah nyawa sebuah cerita. Tanpa konflik, cerita akan hambar, monoton dan membosankan. Konfliklah membuat pembaca menjadi tegang, penasaran berpihak dan ingin tahu ending cerita.
Tips 6
Olah setiap unsur cerita dengan Sabar.
Beri perhatian pada detail yang harus dimunculkan
agar logika cerita mantap.
Setiap cerita punya logika cerita sendiri. Logika cerita tidak harus sama dengan logika normal umumnya. Yang penting, buat pembaca memahami logika tersebut dan pastikan logika cerita tersebut konsisten dari hingga akhir.

Tips 7
Hindari kebetulan dalam cerita,
kecuali bisa dipertanggungjawabkan.
Khususnya untuk penyelesaian cerita.

Tips 8
Saring dialog, buang yang tidak berfungsi.
Cerita tanpa dialog akan hambar, terlalu banyak dialog juga terasa aneh. Buat komposisi yang tepat antara narasi dan dialog.

Tips 9
Pada nama terselip karakter tokohmu. Pilih dengan bijaksana.

Mood dalam menulis


Saya gak mood menulis!
Sering merasa begitu.
Tahu kan itu bukan alasan, itu tidak lain adalah excuse.
Mood hanya muncul karena kamu belum menjadikan menulis sebagai sesuatu yang must.
Bukan keharusan tapi sekedar hobi.
Selama masih seperti itu maka mood akan merusak produktivitas kamu.

Gak percaya?
Buktinya, selama belasan tahun di dunia pers, saya gak pernah ketema wartawan yang bilang, "Saya gak bisa menulis berita karena gak mood"
Gak pernah.
Karena mereka sadar menulis berita adalah must, maka tidak membuka pintu bagi mood.

Mungkin quote penulis script kelas dunia ini juga bisa jadi pembelajaran.

“Writing is both a pleasure and a struggle. There are times when it’s really aversive and unpleasant, and there are times when it’s wonderful and fun and magical, but that’s not the point. Writing is my job. I’m not a believer of waiting for the muse. You don’t put yourself in the mood to go to your nine-to-five job, you just go. I start in the morning and write all day. Successful writers don’t wait for the muse to fill themselves unless they’re geniuses. I’m not a genius. I’m smart, I have some talent, and I have a lot of stubbornness. I persevere. I was by no means the best writer in my class in college. I’m just the one still writing.” – Akiva Goldsman, I, ROBOT, I AM LEGEND, A BEAUTIFUL MIND, CINDERELLA

" Menulis adalah kesenangan dan juga perjuangan. Ada saat-saat ketika menulis benar-benar menyebalkan dan tidak menyenangkan, dan ada saat-saat itu menulis itu indah, menyenangkan dan magis. Tapi itu bukan intinya. Menulis adalah pekerjaan saya. Aku tidak bisa menunggu rasa suka muncul. Anda tidak menempatkan diri dalam mood untuk pergi ke pekerjaan Anda jam sembilan-ke- jam lima , Anda hanya pergi. Aku mulai di pagi hari dan menulis sepanjang hari. Penulis sukses tidak menunggu mood untuk mengisi sendiri kecuali mereka jenius. Aku bukan jenius . Aku pintar, saya memiliki beberapa bakat, dan saya memiliki banyak sifat keras kepala. Aku bertahan. Saya bukan penulis terbaik di kelas saya di perguruan tinggi. Aku hanyanya satu yang masih menulis " - .
Akiva Goldsman
Penulis script I ROBOT, I AM LEGEND, A Beautiful Mind, CINDERELLA MAN

Jadi masih mau tergantung mood?

Karya : Isa Alamsyah

MULAILAH CINTAMU SETELAH MENIKAH, SAUDARIKU


Beberapa hari lalu terlibat chatting dengan salah satu teman dari dunia maya. Usai saya bertanya-tanya, dia pun konfirmasi, In Syaa Allah akan menikah dalam waktu dekat.

"Gimana perasaanmu? Sudah mantap?" tanya saya.

Dia jawab, "Bismillah, Wi. Lillah."

Saya kembali mengetik balasan, "Iya. Bismillah aja. Kalaupun ada keraguan, kemungkinan besar itu datangnya dari setan."

Seperti yang kita ketahui, menikah itu menyempurnakan separuh agama. Jadi, kalau seseorang sudah menikah, maka dia 'tinggal' menyempurnakan separuh agamanya lagi. That's why, si setan bakal berusaha keras supaya yang separuhnya tadi tidak mudah terpenuhi begitu saja. Dibuatlah berbagai macam perasaan khawatir ketika seseorang berniat untuk menikah. Ya takut miskinlah, takut nggak bisa bebaslah, takut salah milih pasanganlah, dan berbagai kecemasan lainnya.

Hingga tibalah kami pada sebuah statement dari teman saya ini. "Jujur Wi, kalau masalah cinta mah, aku belum ada cinta sama dia."

Saya segera menyahut, "Ya bagus. Alhamdulillah. Memang sebaiknya begitu."

Ingatan saya kembali pada perkataan Oki Setiana Dewi, seminggu menjelang pernikahannya 2014 lalu. Dalam sebuah seminar muslimah yang sesekali membahas tentang pernikahan, beliau berbagi pengalaman serta perasaannya menjelang hari bahagia.

"Kalau ada yang bertanya apakah saya mencintai calon suami, saya jawab: cinta belum. Tertarik iya, makanya mau melanjutkan ke pernikahan," begitu katanya kurang lebih.

Hingga hari ini—dan semoga seterusnya, saya sangat menggarisbawahi statement OSD tersebut. Sepakatnya berlipat-lipat. Ditambah lagi dengan ketegasan Oki dalam menyikapi lelaki yang datang untuk mengenalnya lebih jauh.

"Kalau benar serius, silakan datang ke rumah. Temui ayah saya," tandas ibu dua anak—saat itu, pada lelaki yang kini menjadi suaminya.

Aduhai perempuan itu memang terkadang lemah sekali. Apalagi kalau sudah urusan perasaan. Maka menyerahkan keputusan kepada wali kita, adalah salah satu cara terbaik untuk menghindarkan diri dari langkah yang salah. Karena kemungkinan besar, laki-laki yang berani menemui bapak dari perempuan yang diinginkannya menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak, bukan laki-laki sembarangan. Kalaupun ada pria yang bermain-main usai mendatangi keluarga seorang perempuan, wah pria ini pasti 'bermasalah'. Minimal bermasalah dalam mengatasi dirinya sendiri.

Hari ini juga ada yang chatting nanyain perihal ta'aruf. Apa hukumnya? Gimana prosesnya? Masih takut nggak dapet jodoh kalo nggak pacaran, dan sebagainya.

Hmmm … ta'aruf hanya bisa dilakukan oleh mereka yang serius dan siap untuk menikah! Catat tuh! Jadi bokis banget kalo ada yang ngajakin ta'aruf, tapi baru siap nikahnya tahun depan atau tiga tahun lagi. Hiyaaaaa, yaudah cari pasangan hidupnya juga nggak usah dicicil dari sekarang kaliii. Entaran aja kalau udah siap nikah.

Duh, kalau yang nggak pacaran aja, kadang masih bisa ngerasa berbunga-bunga, cemburu sampai patah hati, padahal nggak ada status apa-apa. Entah gimana dengan yang masih bersedia pacaran.

Baca juga
Latihan Deskripsi "Show don't tell"

Ini udah sering lho kejadian. Bertahun-tahun pacarannya sama siapa. Ehhh yang dinikahin mah siapa.

Nihya, Saudariku …
Sekalipun kamu bisa menjaga fisik dari hal-hal yang mendekati zina, lantas bagaimana kabar hatimu? Apakah dia masih sebersih dulu, sebelum datangnya doi yang mulai membuat hatimu diselipi harap, kemudian namanya mulai tersebut dalam doamu?

Jadi, Saudariku …
Bersabarlah. Jangan malu jika saat ini kau tak mudah jatuh cinta bahkan tak sedang cinta pada lelaki non mahram manapun. Tetaplah pada keputusanmu. Untuk memulai dan menumbuhkan cinta hanya pada dia yang kelak menghalalkanmu dengan sebuah aqad.

"Saya terima nikahnya ..." dan beberapa menit kemudian—jika tidak diulang—para saksi pun berseru, "Saaaaahhhh!"

Karya : Newisha Alifa

Selasa, 21 Juni 2016

Latihan Deskripsi "Show don't tell"


Dalam menulis sangat dianjurkan untuk menerapkan "Show don't tell"
Jadi kita tidak menjelaskan tapi mendeskripsikan.

Sederhananya begini.
Kasus : Bos kamu marah
Apakah bos kamu itu mengatakan, "Saya marah!"
Tapi yang ada, dia menaikan nada suara, tangannya nunjuk nunjuk, ekspresinya mengerikan.Si bos gak bilang saya marah, tapi kita tahu dia marah.
Nah menulis dengan show seperti itu.

Kita gak bilang tokohnya cantik tapi pas baca deskrisinya kita tahu dia cantik.

Dalam menulis memang kalimat sederhana menjadi panjang - tapi kalau kita membuatnya menarik justru jadi kelebihan.

Contohnya,
Kalimat show
Dedi Padiku itu norak melihat monas.
Bentuk tell-nya bagaimana?
Dedi Padiku baru pertama kali melihat monas. Impian terbesar anak kampung ini adalah melihat monas dengan mata kepalanya. Begitu sukanya, sampai sampai ia memutuskan untuk menginap semalaman di taman monas. Pagi hari ketika meninggalkan monas, ia menyempatkan menengok ke belakang dan melambaikan tangannya pada monas.

Contoh 1
Tahu Hermione di Harry Potter?
Kalimat tell:
Hermione sangatlah pintar.
Kalimat show :
Apapun soal sihir yang ditanya guru, Hermione selalu tahu jawabannya.
itu contoh, jadi tanpa dibilang pintar dari deskrispsi itu orang tahu Hermione pintar.
Contoh 2
Kalimat tell
Asma Nadia penulis ngetop.
Kalimat show
Buku-buku Asma Nadia selalu berjejer di deretan buku best seller.
Kalau kamu udah terbiasa membuat menulis dengan pendekatan show, tulisan kamu akan jauh lebih bagus.

Semoga bermanfaat. Dan silahkan coba tuliskan kalimat show dari kalimat di bawah ini di kolom komentar :
1. Megawati presiden perempuan pertama di Indonesia
2. Jokowi bukan ayahku
3. Anis anak koruptor pajak

Oleh : Isa Alamsyah