Tampilkan postingan dengan label Cerpen Kompas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Kompas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juli 2016

SEPASANG MERPATI DALAM SEBUAH CERITA

Image : m.vemale.com
Kita adalah sepasang merpati dalam cerita yang ditulis oleh pengarang tua itu. Pengarang yang hidupnya selalu sepi dan selalu dilanda kesedihan yang kita tahu sejak cerita tentang kita mulai ditulis. Kita tak tahu pasti apa yang menyebabkan ia kesepian dan selalu merasa sedih dalam hidupnya. Mungkin kesedihannya disebabkan oleh foto yang kini tergeletak di atas meja kerjanya. Foto seorang wanita berambut ombak yang tengah tersenyum, menggunakan gaun putih seperti dalam pesta ulang tahun dan membawa bunga mawar. Mungkin itu foto lama, karena sudah sedikit usang dan bingkainya mulai berdebu.

Setiap pagi, ketika pengarang tua itu terbangun dari tidurnya, ia akan menghampiri foto itu. Ia akan memandangi foto itu lekat-lekat dari ujung rambutnya, kemudian akan berhenti pada senyumnya, hingga akhirnya pengarang kita akan tersenyum, atau meneteskan air mata. Sesekali, ia juga akan memeluk foto itu seperti seorang ayah memeluk anaknya, atau lebih tepatnya seorang suami memeluk istrinya. Begitu juga ketika siang hari sebelum ia makan, sebelum mulai menulis, ataupun malam sebelum tidur, ia selalu memandangi foto itu dengan mimik yang hampir sama: tersenyum, atau meneteskan air mata.
Kita tak pernah mengerti benar, bagaimana sebuah foto bisa membuat seseorang merasa kesepian ataupun bersedih. Hingga suatu hari, diam-diam kita menyimpulkan bahwa wanita di foto itu adalah istrinya.

Merasa iba dengan nasib pengarang tua itu, kita berniat untuk menghiburnya agar ia tak kesepian ataupun bersedih lagi. Lalu kita membayangkan diri kita sebagai sesosok makhluk yang jenaka seperti badut misalnya, dengan hidung besar berwarna merah, dan muka yang menggemaskan. Lalu di depannya kita akan membuat sebuah pertunjukan sirkus yang tidak terlalu serius tetapi jenaka. Dan kita membayangkannya ketika pengarang tua itu tertidur pulas setelah sebelumnya ia menangis karena foto wanita yang kita simpulkan sebagai istrinya. Aku yang memulai mengatakan ide itu kepadamu sebelum kita membayangkan hal itu bersama-sama.

Namun, akhirnya kita sadar bahwa kita masih terkurung dalam cerita yang dibuat oleh pengarang tua itu. Lalu kita mengutuki diri kita sendiri karena tidak bisa membantu pengarang tua itu, dan kenapa pula pengarang itu menciptakan kita sebagai sepasang merpati dan bukan sepasang badut yang jenaka, atau sepasang badut pemain sirkus. Andaikan pengarang itu bisa secepatnya menyelesaikan kisah kita, mungkin ia akan menulis kita dalam tokoh cerita lain, dan kita berharap itu adalah cerita yang jenaka, dengan tokoh kita sebagai sepasang badut. Meskipun peluang ia membuat tokoh ceritanya sebagai badut adalah seperseribu bahkan seperjuta sekian, tapi apa salahnya jika kita berharap bahwa kemustahilan itu tak pernah ada dan yang ada hanyalah kepastian bahwa tokoh cerita yang akan ia buat setelah menyelesaikan cerita kita adalah badut yang lucu.

Pada suatu pagi, di hari minggu yang cerah, untuk pertama kalinya kita melihat pengarang tua itu tertawa setelah ia berbicara dengan seseorang lewat telepon. Kita berpikir ia mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dari seseorang yang meneleponnya, dan hal itu membuat ia melupakan kesedihannya.

”Sayang, hari ini tulisanku dimuat di media nasional yang aku impikan dari sejak awal aku mulai menulis. Dan siang nanti aku akan dikirimi bukti terbitnya, dan seminggu lagi tukang pos akan datang mengetuk pintu rumah kita membawa honor tulisanku. Aku bahagia sekali hari ini sayangku.”

Kita melihat ia mengelus foto istrinya, tawanya hilang lalu berganti air mata.

”Andai saja kau ada di sini bersamaku, pasti kau akan ikut bahagia. Kau akan meloncat-loncat seperti anak kecil, lalu kau akan mengajakku keluar untuk jalan-jalan dan pasti aku akan mentraktirmu makan di restoran impianmu.”

Pengarang tua itu kembali tenggelam dalam kesedihannya. Kita ikut terseret dalam kesedihan, dan aku melihat matamu berkaca-kaca yang membuat mataku juga ikut berkaca-kaca. Betapa kesedihan selalu berteman air mata.

Jam sebelas limabelas, seseorang mengetuk pintu rumahnya, dan ia cepat-cepat menghapus air matanya degan lengan bajunya, lalu bergegas mendekati pintu rumahnya. Di depan pintu ia mendapati seorang tukang pos telah berdiri dan menyodorkan sebuah koran nasional yang memuat tulisannya. Setelah menemukan halaman yang memuat tulisannya, dan menghempaskan lembaran koran lainnya yang ia anggap tidak penting, ia kembali mendekati foto istrinya.

”Lihat, ini dia korannya! Aku sudah menerimanya. Aku bahagia. Kau juga harus ikut bahagia di sana melihatku bahagia. Kau juga harus ikut tertawa seperti aku hari ini.”

Ia terus saja berkata dengan nada yang menggebu-gebu dan penuh kegirangan walaupun foto itu tak pernah mengucapkan kata ”selamat” kepadanya, hingga akhirnya ia kelelahan dan tertidur di atas meja menindih koran yang memuat tulisannya.

Satu minggu kemudian, ketika pengarang tua itu baru selesai makan dan memandangi foto istrinya, seseorang kembali mengetuk pintu rumahnya yang ternyata adalah tukang pos. Tukang pos itu menyodorkan sebuah amplop padanya dan ketika ia membukanya, amplop itu berisi sejumlah uang dan sepucuk surat pengantar untuk honor tulisannya.

Sore harinya, ia pergi meninggalkan cerita tentang kita sepasang merpati dan foto yang biasa ia pandangi dengan membawa isi amplop yang ia terima dari tukang pos, kecuali surat pengantarnya yang ia biarkan tergeletak di lantai. Kita tak pernah tahu ke mana pengarang tua itu pergi sore itu. Dan kita hanya tahu ia kembali tengah malam dengan langkah sempoyongan sambil meracau tidak karuan.

Ia menendang kursi, kaleng bekas makanan ringan, botol-botol bekas air mineral, dan meja kerjanya, hingga foto istrinya terjatuh dan kacanya pecah setelah menghantam lantai. Lalu ia melemparkan koran yang memuat tulisannya ke lantai dan menginjaknya dan ia memuntahkan isi perutnya di koran itu. Ia tergeletak, lalu berguling-guling di atas muntahannya. Kita begitu waswas kalau-kalau pengarang tua itu melemparkan tulisan tentang kita yang ada di atas meja kerjanya lalu menginjak-injaknya sebagaimana yang ia lakukan pada koran yang memuat tulisannya. Tapi untungnya ia tidak melakukannya, dan kita merasa bersyukur.

Esok paginya, setelah ia sadar dan mendapati foto istrinya tergeletak di lantai dengan bingkai yang berantakan, ia mencabut foto itu dari bingkainya lalu mendekapnya erat-erat dengan tanpa henti air matanya terus menetes. Dan kesedihannya semakin menjadi-jadi ketika ia mendapati koran yang memuat tulisannya telah kotor dan rusak oleh muntahannya sendiri.

Kita hanya menjadi penonton dan kembali ikut tenggelam dalam kesedihan. Kita mengutuki kesedihan-kesedihan itu sebagai sesuatu yang lebih menyakitkan dari kematian. Dan dalam kesedihan itu, kita berharap pengarang tua itu segera menyelesaikan cerita tentang kita, sepasang merpati dan kembali menulis cerita yang baru dengan tokoh sepasang badut yang jenaka.

Kadang-kadang sesuatu yang kita inginkan bisa saja menjadi kenyataan. Terbukti, di suatu pagi yang mendung setelah sekian lama ia tenggelam dalam kesedihan karena selembar foto, pengarang tua itu kembali menulis dan melanjutkan cerita tentang kita. Harapan kita agar penulis tua itu menulis cerita yang baru dengan tokoh sepasang badut yang jenaka sedikit demi sedikit akan menuju pada kenyataan. Walaupun apa yang kita harapkan belum tentu menjadi kenyataan.

Kita selalu berharap sesuatu yang terbaik untuk pengarang tua itu, tetapi kita tak pernah berpikir tentang nasib kita dalam cerita yang sedang ditulisnya. Pengarang tua itu menceritakan kau mati ditembak oleh seorang pemburu saat kita sedang asyik bertengger di sebuah pohon kamboja sambil bercakap-cakap tentang masa depan yang bahagia. Jantungmu pecah setelah tertembus isi senapan, dan tubuhmu meluncur ke tanah. Aku terbang menyusul tubuhmu yang meluncur tanpa kendali. Aku tak tahu harus melakukan apa saat itu. Menerbangkanmu ke tempat yang jauh dan mengobati lukamu sambil berharap kau hidup lagi, menyerahkan diri pada pemburu itu agar ditembak dan segera menyusulmu, atau melawan pemburu itu dengan segenap tenagaku? Tetapi cerita berkehendak lain. Isi kepala pengarang tua itu berbeda dengan isi kepalaku. Dia malah menceritakan aku menangis tersedu-sedu di samping tubuhmu yang tak bernyawa tanpa melakukan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar menangis. Saat pemburu itu mendekat, ia malah menceritakan aku terbang menghindari sang pemburu. Betapa bodohnya pengarang yang selalu bersedih karena selembar foto itu. Kenapa ia tidak menceritakan kalau aku mati bersamamu ditembak pemburu itu.

Setelah kematianmu, pengarang tua itu menceritakan diriku pergi ke tengah hutan yang sepi dan aku tinggal di sebuah pohon yang jauh di tengah hutan yang tak bisa dijamah oleh para pemburu. Di sana aku semakin tenggelam dalam kesedihan dan menyesal telah meninggalkanmu dan membiarkan pemburu itu melumat habis tubuhmu menjadi santapan yang enak baginya. Sungguh pengarang yang bodoh.

Dan parahnya, pengarang tua itu malah meninggalkan cerita tentangku begitu saja. Ia berubah menjadi pemurung dan tubuhnya semakin ceking. Kemudian disusul dengan batuk yang seirama gonggongan anjing, dan ia menghabiskan hari-harinya di atas tempat tidur.

Hingga akhirnya pengarang tua itu tak pernah beranjak lagi dari tempat tidurnya, yang kemudian disusul dengan bau busuk yang menguar di seluruh ruangan. Suatu sore orang-orang masuk ke kamar itu setelah bersusah-payah mendobrak pintu dan mendapati tubuh ceking pengarang tua itu telah dimakan ulat.

Sepeninggal pengarang tua itu, aku benar-benar kesepian dan selalu berharap ada seseorang yang menemukan cerita ini dan membebaskan aku dari kesedihan. Karena setelah kematian pengarang tua itu, tidak ada seorang pun yang datang ke rumah ini, selain seekor anjing borok yang selalu berteduh ketika hujan.

Suatu hari dalam keputusasaan, tiba-tiba tebersit dalam pikiranku bahwa kisah kita adalah kisah hidup pengarang tua itu yang ditulisnya dengan tokoh sepasang merpati.

Penulis bernama lengkap I Putu Supartika lahir di Karangasem, Bali, tanggal 16 Juni. Sekarang sedang menempuh pendidikan di Undiksha (Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja) Jurusan Pendidikan Matematika, e-mail: putu.supartika@gmail.com.

(Sumber: harian Kompas edisi 3 Juli 2016, halaman 20 dengan judul "Sepasang Merpati dalam Sebuah Cerita.")

Senin, 27 Juni 2016

SURAT MENTERI DAN MIMPI PENGARANG TUA


Oleh Agus Noor, Jujur Prananto, Dewi Ria Utari, Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, dan Ni Komang Ariani

Tohari, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Di pengujung usia senjanya sebagai pengarang, baru kali ini ia merasa diperhatikan. Ia akan mendapatkan hadiah Rp 100 juta. Astagfirullah, itu uang yang tak pernah dibayangkan, bila mengingat selama ini ia hanya mendapat puluhan ribu dari honor tulisannya. Memang sesekali ia mendapat uang sekian juta bila diundang di acara pemerintah, tapi itu pun sudah dipotong sana-sini, dan ia hanya menandatangani kuitansi kosong. Sekarang Rp 100 juta! Tumben pemerintah memberi hadiah sebanyak itu.

Masih dalam kekagetan yang teramat sangat, Tohari mulai merancang-rancang akan dikemanakan uang sebanyak itu. Ia sedang berpikir untuk menggunakan sedikit uang tersebut untuk belanja online? Siapa tahu? Baru minggu lalu, cucunya memperlihatkan Instagram belanja online yang penuh dengan barang-barang baru menggiurkan mata yang tak pernah dilihatnya.

"Mbah," kata sang cucu. "Beli ini saja."

"Apa itu?"

"Smartphone model terbaru."

"Ahhh enggak mau. Handphone yang Mbah beli sepuluh tahun lalu masih bisa dipakai, kenapa harus beli yang baru."

Tetapi tiba-tiba, ponsel Tohari berbunyi, langsung yang berbicara Pak Menteri. "Maaf Pak Tohari, hadiahnya dicabut. Tolong, ini hanya mimpi saya. Lebih baik besok malam Pak Tohari mimpi saja sendiri. Hadiahnya mungkin Rp 1 miliar."

"Tapi Pak, kalau Rp 1 miliar, saya enggak mau mimpi sendiri. Lebih baik saya mengajak teman-teman saya bermimpi bersama. Banyak tuh yang pengen bisa mimpi dapat Rp 1 miliar. Di antaranya teman-teman penulis cerpen tua seperti saya ini. Putu Wijaya, Budi Darma, atau Seno Gumira Ajidarma. Eh tapi Seno sering kali terlalu banyak improvisasi kalau diajak bermimpi. Lebih baik lagi saya mengajak teman-teman penulis muda untuk bermimpi bersama. Mereka kreatif-kreatif lho Pak kalau diajak mimpi. Kayak itu tuh, Ni Komang Ariani, Iqbal, Guntur, Oddang, Miranda, mereka pinter-pinter lho kalau ngimpi."

"Silakan saja Pak Tohari. Mau mimpi sendiri atau ngajak teman-teman. Yang penting Bapak sudah cukup jelas kan bahwa hadiahnya sudah dicabut? Coba susun dulu proposal mimpi Rp 1 miliar Pak Tohari, nanti ajukan saja ke saya. Nanti saya kasih kontak nomornya Dirjen saya, si Hilmar itu. Biar nanti dia baca dulu proposal Rp 1 miliar Pak Tohari," ujar Pak Menteri.

Tohari terdiam sejenak. Ia mencoba menafsir makna di balik perkataan Pak Menteri yang sebenarnya sudah sangat terang benderang itu.

"Maaf Pak Menteri, apakah saya boleh bertanya?"

"Silakan, Pak Tohari."

"Apakah Bapak bisa mengendalikan mimpi?"

"Mengapa tidak?"

"Bapak pernah mengendalikan mimpi?"

"Berkali-kali."

"Wah, sungguh elok. Jadi bisa ya, saya meminta diri saya mimpi mendapat Rp 100 juta lalu saya minta sembilan pengarang lain mimpi mendapat Rp 100 juta? Bisa jugakah dalam mimpi itu saya meminta sembilan pengarang lain memberikan uang mereka untuk saya? Lalu, jika sudah terkumpul, bisakah saya meminta diri saya sendiri memberikan uang itu untuk guru-guru miskin di seluruh Tanah Air?"

"Bisa. Mengapa tidak?"

"Kok Bapak begitu yakin?"

"Saya telah melakukan berkali-kali, Pak Tohari."

Tohari takjub.

"Boleh bertanya lagi Pak Menteri?"

"Silakan, Pak Tohari."

"Bagaimana cara mengendalikan mimpi itu?"

"Pak Tohari harus tidur tepat pukul 00.13."

Tohari tak bertanya mengapa harus pukul 00.13. Ia justru menanyakan posisi tidur.

"Kepala harus mengarah ke selatan atau timur?"

"Ke utara, Pak Tohari. Sebelum tidur, bersama sembilan pengarang, Pak Tohari harus membayangkan mendapat uang masing-masing Rp 100 juta bukan dari saya, melainkan dari Pak Jokowi. Pak Jokowi pasti tergerak memberikan uang itu. Hanya, Pak Tohari dan sembilan pengarang, tidak boleh ragu-ragu dalam bermimpi. Paham, Pak Tohari?"

"Paham, Pak Menteri."

Tohari memang paham pada setiap perkataan Pak Menteri. Akan tetapi, begitu suara Pak Menteri dari seberang menghilang, ia sedikit meragukan metode pengendalian mimpi yang tak masuk akal.

"Mimpi selalu tidak masuk akal," Tohari membatin, "Karena itu, haruskah aku memercayai metode mimpi Pak Menteri?"

Sunyi. Tohari merasa tak bisa menjawab pertanyaan itu sendiri. Karena itulah, ia perlu menelepon beberapa pengarang.

Mula-mula ia menelepon Triyanto Triwikromo.

"Apakah Anda pernah mengendalikan mimpi?"

"Belum pernah, Pak Tohari, tetapi saya pernah mengendalikan cerita. Cerita apa pun bisa saya kendalikan sesuai keinginan suksma."

Ia juga bertanya pada Seno. Seno menggeleng. "Saya hanya mahir mengendalikan senja, Pak Tohari. Sesekali saya mengendalikan Tuhan untuk memenuhi doa-doa saya."

Ia juga bertanya pada Joko Pinurbo. Joko Pinurbo tertawa, "Saya hanya bisa mengendalikan sarung dan celana saya. Celana dan sarung saya jika tidak dikendalikan suka berkibar ke mana-mana, Pak Tohari."

Tohari juga bertanya kepada cerpenis baru tapi senior Warih Wisatsana. Ia hanya mendapatkan jawaban, "Kalau mau kendalikan mimpi, jadilah ikan terbang dulu...," kata Warih.

Tak putus asa, Tohari bertanya kepada pengarang lain mengenai teknik mengendalikan mimpi. Kali ini kepada Budi Darma. Budi Darma juga tertawa, "Satu-satunya sosok yang pernah saya kendalikan bernama Olenka. Justru Olenkalah yang bisa mengendalikan mimpi. Coba nanti saya tanyakan kepada dia."

"Jangan-jangan saya juga bisa bertanya kepada Srintil atau Rasus, ya Pak Budi?"

"Mungkin saja, Mas Tohari. Mungkin saja. Sampeyan tahu di mana harus menghubungi Rasus atau Srintil bukan?"

Tohari mengangguk namun tidak segera melakukan saran Budi Darma. Tohari kemudian berjalan ke arah jendela. Ia menatap gerimis.

"Masih gerimis air. Bukan gerimis yang telah jadi logam," Tohari bergumam sambil mengingat Goenawan Mohamad, penyair yang menulis "Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam".

Masih gerimis yang biasa-biasa saja. Bukan sesuatu yang lebih tabah dari hujan bulan Juni," Tohari mendesis sambil mengingat Sapardi Djoko Damono, penyair "Hujan Bulan Juni".

Tohari terus menikmati gerimis itu. Ia tidak ingin menghubungi Srintil. Ia tidak ingin menghubungi Rasus. Ia justru menelepon Putu Wijaya.

"Bli Putu, apakah Anda bisa mengendalikan mimpi?"

"Bisa. Apa pun bisa saya kendalikan."

"Bisa bermimpi bertemu dengan Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan lalu mengajak beliau menemui Pak Jokowi?"

"Bisa."

"Bisa meminta Pak Jokowi memberi uang kepada 10 pengarang masing-masing Rp 100 juta?"

"Bisa."

"Bisa meminta para pengarang memberikan uang itu kepada guru-guru miskin?"

"Bisa."

"Caranya?"

Tak ada jawaban dari seberang.

"Caranya?"

Masih tak ada jawaban.

"Bli Putu? Ada apa? Bli Putu masih mendengarkan suara saya?"

Tetap tak ada jawaban.

"Halo, Bli? Masih mendengar suara saya?"

"Ya, masih Pak Tohari. Caranya kita harus puasa 40 hari dulu di gua yang paling gelap. Setelah itu puasa 40 hari lagi di gedung paling tinggi. Terakhir kita harus puasa 40 hari lagi di tepi sungai paling kotor."

"Kok terlalu sulit. Ada cara yang gampang?"

"Ya, memang sulit, Pak Tohari, tetapi saya jamin kita akan bisa mengendalikan mimpi kalau sudah bisa melampaui semua itu."

"Bli Putu mendapatkan metode itu dari mana?"

"Ya, dari mimpi, Pak Tohari. Sekarang tidur dan bermimpilah agar Pak Tohari mendapatkan metode mengendalikan mimpi! Saya doakan Pak Tohari berhasil. Pak Tohari orang baik. Alam pasti menolong Anda."

Tohari terdiam. Ia pun bersiap-siap tidur. Di sana ia bertemu dengan semua orang yang dipikirkannya. Pak Menteri yang senyumnya semanis gula. Pak Jokowi yang matanya memantulkan sungai yang berwarna kecoklatan. Dan semua pengarang-pengarang yang ditemuinya itu. Mereka seperti menghadiri sebuah pesta dengan sajian makanan yang serba lezat. Mulai dari kambing guling, sate maranggi, ayam panggang, sampai dengan kue tart kecil rasa cokelat dan karamel.

Tohari tidak ingat kapan pesta itu berakhir, yang jelas ia terbangun dengan badan pegal luar biasa. Seperti sehabis mencangkul sawah sehari penuh. Pintu kamar terbuka sebagian, sementara Tohari hanya tergeletak tanpa daya. Tak kuasa menggerakkan tubuhnya untuk bangkit.

Di luar sana, halaman rumahnya terlihat jorok dengan tumpukan daun berserakan, yang tak sempat dibersihkan. Namun, kali ini daun-daun berserakan itu terlihat berbeda. Warnanya merah terang dan ada dua foto dua orang yang sangat dikenalnya. Dua laki-laki tampan mengenakan kopiah, yang ia kenal betul, namun ujung lidahnya gagal menyebutkan nama kedua orang itu.

Istrinya sudah berulang kali ngomel.

"Tuh lihat rumah tanpa aku. Dari dulu kamu terlalu sibuk berpesta. Sibuk tertawa-tawa seperti pejabat-pejabat itu. Sibuk mencecap kue tart rasa karamel. Lupa pada bibirmu yang hitam dan keriput itu."

Tohari mengerang keras setelah kembali gagal bangkit dari tempat tidur. Daun-daun gugur makin menumpuk, seperti membentuk gundukan di hadapannya.

Tohari memejamkan mata mengingat-ingat ucapan Pak Menteri. Sedikit-sedikit mulai dipercayainya ucapan laki-laki itu. Karena ia pernah mengetahui seseorang melakukan hal yang sama persis. Teman dari temannya. Namanya Leonardo. Laki-laki itu berwajah kaukasia. Hidungnya mancung dan kulitnya putih seperti daging durian yang sudah dikupas.

Leonardo menjalankan sebuah misi rahasia dengan bermimpi kolektif bersama teman-temannya. Apa misi rahasianya? Jelas Tohari tidak tahu. Namanya juga rahasia. Ia tersenyum-senyum sendiri. Tohari mengernyit kesakitan, merasakan tarikan tajam di kedua pipinya yang mengeras.

Bukan saja badannya yang makin mengeras, ternyata urat-urat wajahnya seperti sudah disemen. Tohari memejamkan mata untuk memusatkan pikiran. Agar ia bisa memahami apa yang sungguh terjadi, ketika sekonyong-konyong, seorang laki-laki, yang ia ketahui bernama Eden berbisik di telinganya. "Aku bisa menolongmu. Aku bisa mengajarimu melakukan apa yang dilakukan oleh Leonardo dan kawan-kawannya." Suaranya serak dan dalam seperti suara Hannibal Lecter.

Tohari tercengang. "Aku bisa mengajak sembilan orang lainnya untuk bermimpi secara bersamaan?" Eden mengangguk yakin. "Namun, kesempatanmu hanya sekali. Dalam kesempatanmu yang sekali itu, ada dua peluang. Peluang berhasil lima puluh persen, peluang gagal lima puluh persen. Jika berhasil, mimpi 1 miliarmu akan terkabul, jika gagal, kesepuluh dari kalian akan terjebak di dalam dunia karangan kalian masing-masing." Katanya dengan suara yang makin serak seperti tercekik.

"Hah...! Apa maksudnya?"

"Ingat-ingatlah cerpen yang pernah kamu tulis. Seingatku terakhir kau menulis tentang seorang anak yang ingin mengencingi Jakarta. Nah, jika gagal, kau akan hidup di dunia anak-anak yang kau kisahkan itu."

Tohari merinding. Deru kereta api yang menggetarkan dan suara klaksonnya yang menjerit-jerit, menyerbu ke gendang telinganya. Bau makanan sisa bercampur bau bacin menggulung seperti tornado di depan cuping hidungnya. Kawanan lalat meriung riang merayakan kecepatan tubuhnya yang menumpang bokong kereta yang beroma tak sedap. Debu dan sampah-sampah kecil beterbangan membuat kelilipan.

Anginnya berpusing ke segala penjuru dan menerbangkan gundukan daun berwarna merah terang di halaman. Dua laki-laki berkopiah dan berwajah tampan tersenyum dengan manisnya. Sekilas senyumnya mirip senyum Pak Menteri. Di titik batas alam sadarnya, Tohari melenguh kecil. Aku mau tersenyum dan tertawa. Langit menggelap dan titik embun membasahi kening Tohari yang keriput. Laki-laki itu terkekeh-kekeh geli.

Catatan:
Cerpen ini ditulis secara kolaboratif oleh Agus Noor, Jujur Prananto, Dewi Ria Utari, Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, dan Ni Komang Ariani, dimulai saat Malam Jamuan Cerpen Kompas, Selasa (31/5). Setelah menulis secara langsung di depan undangan, penulisan dilanjutkan secara bergantian dari meja kerja masing-masing. Keenam penulis ini dianggap mewakili 23 penulis cerpen yang diundang malam itu. Judul "Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua" ditulis secara langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan yang juga hadir. Cerpen ini dipersembahkan khusus untuk merayakan 51 tahun harian Kompas, yang jatuh pada 28 Juni mendatang.

(Sumber: harian Kompas edisi 26 Juni 2016, halaman 20 dengan judul "Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua.")